"Allahu Goyyatuna,Rasullullah Qudwahtuna,Al Qur'an dusturuna,jihad sabiluna!!Allah tujuan kami,Rasullulah tauladan kami,Al qur'an pedoman kami,jihad jalan hidup kami!!"
Tampilkan postingan dengan label Kajian Haroki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Haroki. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Mei 2009

Lembaga Dakwah Kampus dan Kepemimpinan Bangsa


Lembaga Dakwah Kampus dan Kepemimpinan Bangsa

Lembaga Dakwah Kampus (LDK) adalah salah satu komponen penggerak dakwah, khususnya dikalangan civitas akademi. Dengan LDK, dakwah dapat masuk dengan mudah ke kalangan Civitas Akademi, karena LDK merupakan sebuah oragnisasi yang legal, yang berada dibawah naungan institusi kampus, sehingga mendapatkan sokongan dan dukungan yang cukup besar dari kalangan kampus.
Peran LDK tidak dapat dipisahkan dari usaha perbaikan dan penggemblengan mental dan akhlak calon pemimpin dan cendekiwan masa depan. Disinilah peran LDK sangat berarti, karena dengannya, para mahasiswa yang merupakan generasi penerus perjuangan umat dapat mengenal kesyamilan Islam. Dengan LDK pulalah mereka dapat menuangkan ide dan idealisme mereka, guna menuju kehidupan yang lebih baik.
Sejarah telah mencatat dengan tinta emas, peran LDK dalam perjuangan bangsa ini. Reformasi adalah sejarah terbesar yang pernah tercetak oleh para da’i-da’i kampus, yang sebelumnya selalu bergerak dibawah tanah, karena intimidasi dan keotoriteran Orde Baru yang pimpin oleh Soeharto. Pada awal masa reformasi(1998), aktivis-aktivis dakwah yang selama ini merasa gerah, prihatin, dan benci dengan kapemimpinan pada masa itu, mencoba untuk mengubah sistem secara total. Maka lahirlah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang merupakan gabungan beberapa LDK yang ada di beberapa universitas, misalnya LDK Salam Universitas Indonesia (UI), LDK Institut Teknologi Bandung (ITB), dan LDK-LDK lain. Dengan rahmat Allah dan dukungan seluruh komponen masyarakat Indonesia, yang bersatu untuk mengakhiri rezim yang telah menancapkan kuku kekuasaannya selama 32 tahun dibumi pertiwi ini, maka Soeharto dan kekuasaanya dapat ditumbangkan.
Kini setelah 10 tahun reformasi, perkembangan LDK semakin pesat. LDK seakan menjadi komponen yang wajib dimiliki oleh semua kampus yang ada dinegeri ini. Kita mungkin bisa berbangga hati dengan fakta tersebut Karena kampus-kampus yang selama ini penuh dengan mahasiswa hedois, berangsur-angsur berubah wajah menjadi lebih Islami. Lihat saja UI yang kini terkenal dengan sebutan Kampus Pesantren, ITB yang terkenal dengan para mahasiswa-mahasiswa ”berbaju koko”, dan Universitas Gajah Mada (UGM) yang termasyur dengan sebutan ”pesantrennya Yogyakarta”. Kini, LDK tidak lagi terbatas dikampus-kampus besar, karena kini LDK telah ada hampir disemua kampus di berbaai daerah di negeri ini, misalkan LDK Sentra Kerohanian Islam UNG yan berada di Kampus Universitas Negeri Gorontalo, LDK Mahasiswa Pencinta Mushola yang di dirikan di IAIN Sultan Amai Gorontalo,LDK Kharisma di Universitas Gorontalo, LDK Nurul Fikry yang berjaya di kampus AKPER Luwuk, LDK MEDIS di Kampus Pollytekes Gorontalo,LDK Gemais yang ada di Polytekes Makassar dan kampus-kampus lainnya.
Kita patut berbangga, bahwa LDK tidak hanya menghasilkan cendikiawan-cendekiawan yang menguasai teknologi namun juga cendekia yang yang bertaqwa, dan sekaligus menjadi pemimpin yang dapat diandalkan oleh Bangsa Indonesia. Sebut saja, Hidayat Nurwahid, seorang Ulama sekaligus Politikus, yang berhasil memimpin MPR RI menjadi lebih baik, Anis Matta, seorang cendikiawan muslim jebolan Universitas Birmhigram, Inggris, yang terkenal dengan kepemimpinan dan keahliannya dalam merangkai kata, yang telah menghasilkan berpuluh-puluh buku Best Seller, Tifatul Sembiring, seorang polytikus yang hebat, yang juga seorang da’i yang cukup populer di negeri ini, dan Abdurrahman Bahmid, seorang aktivis dakwah ,alumni Universitas Al Azhar, Mesir, yang terkenal dikalangan Masyarakat Gorontalo, baik sebagai kapasitasnya sebagai da’i ataupun sebagai politykus muda harapan Gorontalo. Dengan bermunculnya pemimpin seperti mereka, yang tidak hanya ahli dalam berpolitik dan memimpin, namun juga ahli dalam agama, diharapkan bangsa ini memiliki harapan baru, lepas dari kekuasaan penguasa-penguasa zalim yang telah mencabik-cabik harkat dan martabat bangsa ini, baik dimata dunia Internasional ataupun dimata Allah SWT.
Akhirnya, kita hanya bisa berdo’a dan berusaha, agar LDK-LDK dapat senantiasa menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa kepemimpinan yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasullullah, yang bisa memimpin negeri ini dengan adil, sehingga membawa negeri ini lebih sejahtera dibawa ridhohNya. Amin..

Senin, 16 Februari 2009

HAMAS, tentara dari Surga


Brigade Al Qasam yang merupakan angkatan bersenjata yang berada dibawah naungan Harokah al Muqowamah al Islamiyah (HAMAS), yang didirikan oleh Syeh Ahmad Yasin. Brigade ini terdiri dari para pemuda yang ikhlas berjuang untuk kebebasan Al Quds dari tangan kotor Zionis.Brigade Al Qasam terdiri dari orang-orang yang berani mati, dan rela mengorbankan segala-galanya demi Palestina dan Islam.
Lalu bagaimana kisah pembentukan HAMAS dan Al-Qsamnya? Berikut uraian singkatnya:
Fase 70-an : Harokah (Gerakan) sudah mampu berperan dalam meletakan dasar dan memunculkan kelompok-kelompok islam di berbagai yayasan dan asosiasi. Dari sinilah muncul perkumpulan dan lembaga islam hingga terbentuknya Universitas Islam.

Awal 80-an : Harokah semakin solid dalam aspek tanzhim (organisasi) dan ta’thir (ruang lingkup). Pada fase ini harokah merasakan kebutuhan yang mendesak untuk melakukan perlawanan terhadap pendudukan Zionis. Di tahun 1983 dibentuklah suatu komisi militer yang melakukan berbagai gerakan-gerakan rahasia untuk melindungi kerja-kerja militer hingga terbentuk Organisasi Jihad dan Dakwah (MAJD)

Tahun 1987 : Harokah mulai melakukan aksi-aksi massa untuk melakukan perlawanan terhadap pendudukan Zionis melalui berbagai domonstrasi dan penyebaran pamflet kepada rakyat Palestina di daerah Gaza demi memberikan pernyadaran dan kewaspadaan terhadap berbagai cara-cara penundukan yang dilakukan musuh.

Desember 1987: Terjadi percikan pertama yang memunculkan HAMAS dikarenakan tindakan penganiayaan Zionis terhadap hak-hak rakyat Palestina hingga sampai tahap yang sudah tidak bisa ditahan.

Kehormatan dan hak-hak rakyat Palestina dihina dan direndahkan yang menyebabkan munculnya revolusi. Munculnya Gerakan INTIFADHAH (gelombang perlawanan) bulan Desember 1987 diawali dengan berbagai pemberontakan, revolusi, demonstrasi dan aksi-aksi yang menunjukkan penolakan rakyat Palestina.

Pada bulan-bulan itu juga para tokoh Gerakan Ikhwan memberikan berbagai pelatihan dalam menciptakan perlawanan massa dan penyebaran berbagai pamflet untuk menggiring opini umum dalam menentang pendudukan Zionis.

6 Desember 1987: Terjadi tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh seorang supir sebuah Truk Zionis yang menabrakkan kendaraannya ke sebuah mobil kecil yang membawa para pekerja Arab dan mengakibatkan 4 orang penduduk Palestina syahid. Kejadian tersebut menandai munculnya tahapan baru dalam jihad rakyat Palestina.

Para tokoh Gerakan Ikhwan di Gaza mulai melatih para mahasiswa cara-cara berdemonstrasi. Mereka pun rela menutup kampusnya pada hari-hari demonstrasi. Mereka terus menerus melakukan berbagai demonstrasi baik siang maupun malam sehingga berhasil mendapatkan simpati dan dukungan dari masyarakat Palestina, bahkan rakyat pun ikut turun ke jalan bersama para mahasiswa menentang pendudukan Zionis. Inilah yang menjadi percikan pertama dari kemunculan intifadhah yang penuh berkah.

14 Desember 1987 : Merupakan tahapan baru dalam jihad rakyat Palestina menentang pendudukan Zionis zhalim yaitu tahapan yang mencerminkan gelombang perlawanan islam. Pada awalnya dinamakan حمس (HAMAS) namun setelah beberapa hari diganti menjadi حماس (HAMAAS) kata yang berarti kekuatan dan aktivitas.

Kelahiran HAMAS ini diprakarsai oleh para tokoh Ikhwan yang berjumlah 7 orang. Mereka mengadakan pertemuan di wilayah Gaza setelah kejadian truk 6 Desember 1987 yang kemudian menghasilkan HAMAS.

Ketujuh orang pendiri HAMAAS itu adalah Syeikh Ahmad Yasin, DR. Ibrahim al Bazuri, Muhammad Syam’ah (perwakilan di kota Gaza), Abdul Fatah Dakhon (Perwakilan Wilayah Tengah), DR. Abdul Aziz ar Rantisi (Perwakilan Khan Yunus), Isa an Nasyar (perwakilan kota Rafah), Shalah Syahadah (Perwakilan Wilayah Utara).

Gerakan HAMAS ini membuat panik pendudukan Zionis sehingga pada tahun 1988 mereka melakukan banyak penangkapan dan pengusiran tidak terkecuali para pendiri gerakan kecuali Syeikh Ahmad Yasin yang baru dipenjarakan pada tahun 1989.

Berbagai penangkapan terhadap para pemimpin HAMAS di level pertama terus dilakukan namun itu semua tidak menghentikan regenerasi kepemimpinan dalam tubuh HAMAS hingga sampai level kelima. Penangkapan-penangkapan yang dilakukan Zionis itu tidak berpengaruh apa-apa apalagi menghentikan gerakan.

HAMAS juga menggunakan masjid dalam membangkitkan kesadaran dan perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Zionis, yang kemudian gerakan itu dikenal dengan “Tsaurotul Masjid” (Revolusi Masjid).

HAMAS adalah sebuah Gerakan Jihad, Da’wah dan Politik, ia berdiri di atas Syumuliyatul Islam (Universalitas Islam) yang mencakup semua aspek kehidupan. Hal itu dibuktikan dengan masuknya HAMAS ke medan politik dan ikut serta dalam Pemilu bahkan bisa memenangkannya.

Sejak awal, sebenarnya HAMAS sudah menunjukkan keuniversalannya, seperti memiliki Yayasan-yayasan Sosial, Pendidikan, politik dan Jihad. Masuknya HAMAS ke medan perpolitikan adalah proses alami yang bertujuan membenahi berbagai penyimpangan yang ada didalam berbagai peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip rakyat Palestina dan memberikan perlindungan terhadap berbagai kekayaan dan hak-hak mereka. (disarikan dari hasil wawancara www.ikhwanonline.net dengan H. Muhammad Syam’ah, salah seorang pendiri HAMAS)

Sasaran utama Gerakan HAMAS adalah mendirikan negara Palestina diatas seluruh tanah Palestina melalui jihad yang diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Didalam Manifestasi Gerakan dijelaskan bahwa kemunculan Intifadhah adalah demi iizzah dan kemuliaan rakyat Palestina sebagaimana disebutkan “Demi mnegembalikan hak-hak kami di negara kami dan meninggikan Panji Allah di bumi.”

Kemudian ditegaskan lagi didalamnya bahwa “Intifadhah (Perlawanan masal) rakyat kami adalah untuk berjaga-jaga di bumi yang sedang dijajah ini. Intifadhah lahir untuk menentang politik pemaksaan Zionis dan untuk memberikan penyadaran kepada setiap sanubari… “

Pemahaman aqidah HAMAS bersandar kepada Al Qur’an dan Sunanh Nabi. Kemunculan HAMAS diprakarsai oleh pemikiran Ikhwanul Muslimin dan HAMAS adalah salah satu sayap dari Gerakan Ikhwan.

Pasal Pertama di dalam Piagam Gerakan disebutkan bahwa manhaj HAMAS adalah islam. HAMAS menjadikan islam sebagai sumber pemikiran dan pemahamannya terhadap alam, kehidupan, manusia, kepadanya mereka berhukum dalam setiap prilakunya dan segala langkah-langkahnya juga merujuk kepadanya.”

HAMAS adalah salah satu mata rantai dari mata rantai-mata rantai jihad dalam memerangi orang-orang Zionis yang kemunculannya memiliki kaitan erat dengan asy Syahid Izzudin al Qossam dan para mujahidin Ikhwanul Muslimin tahun 1936, yang kemudian juga merupakan kelanjutan dari jihad rakyat Palestina dan jihad Ikhwanul Muslimin di dalam perang 1948 serta berbagai operasi jihad Ikhwan Muslimin di tahun 1967.

Minggu, 08 Juni 2008

Hasan Al-Bana dan usaha mempersatukan islam

Berikut ana kutipkan tuduhan yang ditujukan kepada Syaikh Assyahid Hasan Al Bana beserta sanggahan yang ana ambil dari forum myquran

http://myquran.org/forum/index.php/topic,120.msg11718.html#msg11718
http://myquran.org/forum/index.php/topic,120.msg12623.html#msg12623


Betul,…kita harus bekerjasama dengan hal-hal yang kita sepakati.

Namun untuk menghormati hal-hal yang berbeda, maka ini perlu penjelasan lebih lanjut. Karena pada kenyataannya, orang-orang Ikhwanul-Muslimin membawa kalimat ini untuk semua hal. Termasuk menghormati perbedaan dalam masalah aqidah dan manhaj. Contoh,…bagaimana sikap penghormatan perbedaan yang mereka lakukan terhadap kaum Syi’ah, sufi, dan qubury. Sa’id Hawwa yang sangat kental aqidah sifi dan qubury pun masuk ke jajaran petinggi Ikhwanul-Muslimin. Dan jangan heran jika di Mesir dan beberapa tempat lain, orang-orang Ikhwanul-Muslimin ingin “mempersatukan” Syi’i dan Sunni. Apakah bisa bersatu bila keberadaan salah satunya itu meniadakan yang lain ?? Tahukah antum bahwa Syi’ah mengkafirkan para shahabat Huh Apakah ini bisa ditolerir dan dihormati akan keberbedaannya ?? Apakah antum tahu bahwa Syi’ah menyakini bahwasannya Al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin ini telah diubah-ubah Huh Apakah perbedaan ini pula bisa antum tolerir dan hormati Huh

Bismilalahirrahman nirrahim
Menarik sekali membaca kutipan Abu Aljauza diatas. Sebagia jawabannya cukuplah saya nukilkan dari buku Al-ikhwan Almuslimun, Anugrah allah yang terzalimi.

Pendekatan yang diupayakan Imam Assyahid Hasan Albana –seandainya para pencela mau tenang, sabar, dan ikhlas memahaminya-nisaya akan menemukan titik temu dengan garis perjuangan Rasuulullah. Penyatuan antara ahlussunnah dengan syiah bukanlah peleburan aqidah sebagaimana yang dipahami para pencela beliau, melainkan sebagai strategi perjuangan dalam rangka bekerja sama memerangi orang-orang yang memerangi Islam secara umum, kolonaialisme, imperialisme, kapitalisme, sosialisme, marxisme dan hedonisme.

Rasulullah SAW. Pernah berkoalisi dengan musyrikin bani Khuza’ah dengan harapan ada kekuatan untuk menghadapi kaum musyrikin yang lebih berbahaya. Setiap penyimpangan yang dilakukan oeh aliran-aliran Islam tentu mempunyai kadar yang berbeda, bahkan dalam satu aliran masih mepunyai kelompok yang bermacam-macam didalamnya. Tentu kita tidak akan menyamaratakan semuanya walau sama-sama meyimpang. Begitulah jika kita mencoba sedikit mempelajari perjalanan dakwah Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang mulia.

Ketika Persia dan Romawi berperang dan dimenangkan oleh Persia, Rasulullah SAW dan sahabatnya merasa sedih mendengar berita itu. Sebaliknya, ketika Romawi mengalami kemenganan, kaum muslimin pun ikut bergembira. Mengapa kaum muslimin berpihak kepada kaum Nasrani? Karena diantara keduanya, Nasranilah yang memiliki keberagamaan yang lebih dekat dengan Islam. Fa’tabbiru ya ulil abshar..Itulah strategi Rasulullah dengan memanfaatkan potensi kebaikan yang ada pada musuh untuk melawan musuh yang lebih besar dan berbahaya.

Itu pula yang dilakukan oleh Al-Banna. Namun hal itu tidak mampu ditangkap para pencelanya (atau memang mereka sengaja menutup mata tidak mau mengerti sama sekali?). Memang tidak sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, serta amat berbeda antara orang yang berjihad dengan mencari-cari kekurangan para mujahid!


Rabu, 04 Juni 2008

Peringatan 18 Tahun Syahidnya Abdullah Azzam: Teroriskah Simbol Jihad Afghanistan itu?


24 November, 18 tahun Islam. Seorang tokoh pejuang Islam menghadap Allah swt dengan begitu indahnya. Syaikh Abdullah Azzam, siapa yang tidak pernah mendengar nama itu? Hampir setiap Muslim yang memperhatikan kondisi dunia Islam di tahun 80-an pasti mengenal nama dan sosok Abdullah Azzam dengan baik.

Dia adalah simbol jihad Afganistan saat mengusir pasukan beruang merah Rusia. Dan kini, hampir 18 tahun berlalu, namanya masih lekat dikenang dalam hati para pejuang Islam di dunia. Meski, label gembong teroris juga dikaitkan dengan namanya, namun siapapun yang mengetahui kondisi perjuangan jihad Afganistan ketika itu, tak pernah terbetik sedikitpun bahwa Abdullah Azzam adalah seorang teroris. Bahkan sebaliknya, ia adalah pejuang sejati yang begitu tinggi kasih sayangnya kepada kaum Muslimin.

Beberapa waktu lalu, sejumlah tokoh mengingatkan tentang peringatan syahidnya tokoh jihad Afganistan itu. Salah seorang muridnya yang kini tinggal di Mesir, bercerita tentang Abdullah Azzam, saat beliau sedang melakukan perkemahan. Pada suatu acara semua yang mengikuti mukhayyam itu di perintahkan oleh komandan lapangan. “Kalian berlarilah mengelilingi lapangan ini sebanyak yang kalian bisa,” ujar komandan lapangan.

Semua peserta perkemahan berlari. Namun setelah beberapa putaran, sudah ada yang menyerah, dan mereka yang menyerah beralasan bahwa “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (2: 286), inilah yang saya mampu”,

Begitu pula orang-orang yang menyerah selanjutnya, mereka selalu beralasan dengan ayat ke 286 di surat Al-Baqarah tersebut, dan yang sisa pun semakin banyak yang menyerah, sampai tinggal Abdullah Azzam sendiri, beliau terus berlari mengelilingi lapangan tersebut, sampai akhirnya beliau pingsan.

Dan setelah sadar beliau ditanya oleh komandan lapangan “ Mengapa anda berlari sampai pingsan begini, kan sudah saya bilang bahwa anda berlari semampu anda”, lalu Abdullah Azzam menjawab “inilah yang saya mampu, sesuai yang anda perintahkan“

Yang dimaksud oleh Abdullah Azzam adalah makna sebenarnya dari “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”, bahwa perintah harus dijalankan sesuai isinya. Di sisi lain, upaya apapun harus dilakukan dengan upaya yang optimal di batas kemampuan seseorang. Itulah salah satu pelajaran yang diberikan Abdullah Azzam.

Komitmen Kuat Berjihad

Abdullah Azzam dilahirkan di sebuah kampung di Utara Palestina yang dikenal sebagai Selat al-Harithia di daerah Genine pada tahun 1941. Ayahnya bernama Mustaffa yang meninggal dunia setahun selepas pembunuhan anaknya. Ibunya bernama Zakia Saleh yang meninggal dunia setahun sebelum Sheikh Abdullah Azzam dibunuh.

Abdullah Azzam berasal dari keluarga yang baik latar-belakang keagamaannya. Keluarganya gembira mempunyai anak lelaki, Abdullah Yusuf Azzam, yang sudah terlihat istimewa di kalangan kanak-kanak lain dan telah aktif berdakwah pada usia yang muda. Rekan-rekannya mengenali Azzam sebagai seorang yang wara dan sangat hati hati dengan dosa. Ia menunjukkan tanda-tanda kecemerlangan pada usia muda. Guru-gurunya melihat keistimewaan ini sejak Azzam masih duduk di bangku sekolah. Abdullah Azzam masuk dalam organisasi al-Ikhwan-ul-Muslimin sebelum mencapai usia baligh.

Sheikh Abdullah Azzam telah dikenal karena ketabahan dan sifatnya yang sungguh sungguh sejak kecil. Ia menerima pendidikan awal peringkat sekolah dasar dan menengah di kampung sebelum meneruskan pendidikan di College Pertanian Khadorri sampai tingkat Diploma. Walau merupakan pelajar termuda di kalangan teman-temannya, Abdullah Azzam adalah murid yang paling cerdas. Setelah menamatkan pendidikan di College Khadorri ia bekerja sebagai seorang guru di sebuah kampung bernama Adder di Selatan Jordan. Kemudian beliau meneruskan pendidikan di college Shariah di universitas Damaskus sehingga memperoleh Ijazah B.A. dalam Shariah pada 1966. Setelah pihak Yahudi mendudduki Tepi Barat pada tahun 1967, Abdullah Azzam muda hijrah ke Jordan, karena ia tidak mau tinggal di bawah penjajahan Yahudi di Palestina. Pengalaman melihat tank-tank Israel bergerak masuk ke Tepi Barat tanpa ada hambatan meningkatkan tekadnya untuk hijrah dan belajar mendapatkan kemampuan untuk perang.

Tahun 1960-an ia ikut dalam Jihad menentang penjajahan Israel di Palestina dari Jordan. Ketika itu juga ia menerima Ijazah Master di dalam bidang Shariah dari Unversitas al-Azhar. Pada tahun 1970 sesudah Jihad terhenti karena kekuatan PLO dipaksa keluar dari Jordan, Abdullah Azzam menjadi seorang pensyarah di universitas Jordanian di Amman. Pada tahun 1971 ia dianugerahkan biasiswa ke Universitas al-Azhar di Kairo sampai ia memperoleh Ijazah doktor di dalam bidang Ushul al-Fiqh pada 1973. Ketika di Mesir itulah, ia telah berkenalan dengan keluarga Sayid Quthb, keluarga tokoh perjuangan Islam di Mesir.

Pada tahun 1979 ia meniggalkan universitas berpindah ke Pakistan untuk ikut serta dalam Jihad Afghanistan. Di sana ia berkenalan dengan pemimpin-pemimpin Jihad. Awal kedatangannya di Pakistan, ia dilantik sebagai pensyarah di universitas Islam internasional di Islamabad. Setelah beberapa waktu lamanya, kemudian beliau mengambil keputusan untuk berhenti dari tugas universitas untuk memfokuskan seluruh waktu dan tenaganya kepada Jihad di Afghanistan.

Abdullah Azzam sangat banyak dipengaruhi oleh Jihad di Afghanistan dan Jihad di Afghanistan juga sangat banyak dipengaruhi Abdullah Azzam sejak beliau memfokuskan seluruh waktunya untuk Jihad. Ia menjadi seorang yang disegani di arena Jihad Afghanistan. Ia menumpahkan seluruh daya usaha untuk menyebarkan dan mengenalkan Jihad di Afghanistan ke seluruh dunia. Ia mengubah pandangan umat Islam tentang Jihad di Afghanistan dan menyadarkan bahwa Jihad adalah tuntutan Islam yang menjadi tanggung jawab semua umat Islam di seluruh dunia. Berkat hasil usahanya, Jihad Afghan menjadi Jihad universal yang diikuti oleh umat Islam dari berbagai pelosok dunia.

Abdullah Azzam bahkan menjadi idola generasi muda yang menyahut seruan Jihad. Pernah ia berkata, "Aku rasa seperti baru berusia 9 tahun, 7 setengah tahun di Jihad Afghan, satu setengah tahun di Jihad Palestina dan tahun-tahun yang selebihnya tidak bernilai apa-apa."

Ia juga melatih keluarganya dengan pemahaman dan semangat yang sama. Isterinya terlibat dengan kegiatan penjagaan anak-anak yatim di Afganistán. Ia sendiri menolak tawaran pekerjaan sebagai pensyarah dari beberapa buah universitas sambil berikrar bahwa ia tidak akan meninggalkan Jihad sehingga gugur syahid. Ia juga selalu mengatakan bahwa tujuan utama dan cita-citanya adalah untuk membebaskan Palestina.

Terbunuh Saat Hendak Sholat Jumat

Tentu saja komitmen yang begitu tinggi pada Islam menimbulkan keresahan di kalangan musuh-musuh Islam. Mereka bersekongkol untuk membunuh beliau. Pada tahun 1989, sebuah bom diletakkan di bawah mimbar yang ia gunakan untuk menyampaikan khutbah Jumat. Bahan letupan itu sangat berbahaya dan ledakannya akan memusnahkan masjid tersebut bersama dengan semua benda dan jamaah di dalamnya. Tetapi dengan perlindungan Allah, bom tersebut tidak meledak dan ratusan orang Islam selamat.

Musuh-musuh Islam terus berupaya membunuh Abdullah Azzam. Pada hari Jum’at, 24 November 1989 di Peshawar, Pakistan, mereka telah menanam tiga buah bom di jalan yang sempit. Abdullah Azzam memarkirkan mobilnya di posisi bom pertama dan kemudian berjalan ke masjid untuk shalat Jum’at. Bom pun meledak dan Abdullah Azzam gugur bersama dengan dua orang anak lelakinya, Muhammad dan Ibrahim, beserta dengan anak lelaki al-marhum Sheikh Tamim Adnani (pejuang di Afghan).

Ledakan bom seberat 20kg TNT dilakukan dengan alat kontrol jarak jauh. Setelah ledakan kuat itu itu orang-orang keluar dari masjid dan melihat keadaan yang mengerikan. Hanya bahagian kecil dari mobil tersebut yang kelihatan. Anak Abdullah Azzam, Ibrahim, terpental 100 meter; begitu juga dengan dua orang anak-anak lagi. Serpihan mayat mereka bertaburan di atas kabel-kabel listrik.

Tubuh Abdullah Azzam ditemukan bersandar pada sebuah tembok, dalam keadaan sempurna dan tiada luka atau cedera kecuali sedikit darah yang mengalir dari bibirnya. Seperti itulah akhir kehidupan seorang Mujahid di dunia ini dan insya-Allah kehidupannya akan terus berlanjut di sisi Allah swt.Abdullah Azzam dikebumikan di Tanah Perkuburan Shuhada Pabi di mana beliau menyertai ribuan para syuhada.

Ikhwanul Muslimun: Kekuatan Islam di Mesir


Sosok Albana yang cerdas, ikhlas, namun tetap memilih jalan perjuangan dengan kesederhanaannya, hal ini banyak menarik hati rakyat Mesir. Siapa pun yang diajaknya bicara selalu terkenang dengan kebersihan hati beliau yang memancar dari kedua matanya yang jernih dan senyumnya yang tulus. Albana selalu mengajak orang-orang yang ditemuinya untuk kembali ke jalan Islam yang lurus, untuk kembali ke jalan dakwah Rasulullah SAW yang hanya menggantungkan hidup dan kehidupan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dakwah Ikhwan pun berkembang luas dan merekrut banyak kader di berbagai kota di Mesir.

Di tahun 1933, kantor Ikhwanul Muslimin dipindahkan dari Ismailiyah ke Kairo. Penekanan dakwah yang dilakukan Ikhwan adalah memakmurkan masjid-masjid, menghidupkan pembinaan (usrah) dalam arti sebenarnya dan hanya untuk menegakkan Islam dalam dada para anggotanya, mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, perpustakaan-perpustakaan, dan pusat-pusat kegiatan sosial di Mesir.

Model dakwah Islam yang dilakukan Ikhwan ini selalu membantu dan meringankan kehidupan rakyat Mesir yang saat itu masih banyak yang kesusahan dalam arti sebenarnya. Selain menanamkan ruhiyah umat dengan tauhid yang benar, wala wal baro’ yang lurus, Ikhwan lewat Albana juga merintis usaha perekonomian kerakyatan yang banyak membantu kesulitan hidup rakyat Mesir kebanyakan. Inilah kiprah Albana yang mampu membuat gebrakan baru yang belum pernah dilakukan oleh para ulama besar di Al-Azhar saat itu.

Pada masa itu, banyak orang Mesir di Kairo yang alergi dengan nilai-nilai Islam. Barat dengan segala hal yang sesungguhnya merusak dianggap sebagai peradaban yang jauh lebih maju ketimbang Islam. Islam dipinggirkan dan dianggap sebagai agama yang jumud. Albana dengan Ikhwannya meluruskan anggapan yang keliru ini dengan tulus dan cinta. Umat tidak dicekoki dengan materi-materi tarbiyah yang nyeleneh, yang haq dinyatakan haq sedangkan yang bathil dikatakan bathil, jadi tidak pernah Ikhwan dan Albana “mengusap-usap” sesuatu yang makruh menjadi al-haq. Ketegasan Ikhwan seperti inilah yang membuatnya beda dan menarik hati ratusan ribu hingga jutaan umat Islam yang ada.

Garam Bukan Lipstik

Orientasi gerakan Ikhwan di Mesir ingin mengubah rakyat Mesir yang tadinya alergi terhadap Islam dan menderita minderwaardigheit-complex, perasaan minder karena beragama Islam, menjadi umat yang bangga dengan Islam. Strategi awal adalah memberi kejernihan dalam makna syahadat yang merupakan gerbang utama dalam berIslam. “Tiada Tuhan selain Allah SWT, dan Muhammad adalah Rasulullah SAW!” Inilah Islam yang sejati. Jadi tiada tuhan-tuhan yang lain selain Allah SWT.

Cita-cita besar gerakan Ikhwan di Mesir adalah mengubah masyarakat Mesir secara menyeluruh kepada masyarakat yang semata berlandaskan Syariah Islam. Dengan tegas Ikhwan selalu mengatakan memperjuangkan Syariah Islam dan tidak pernah malu-malu atau ragu untuk mengatakan hal itu.

Dalam waktu singkat, gerakan Ikhwan pun mendapat kader yang cukup banyak. Sehingga pada tahun 1936 mendapat perhatian khusus dari penguasa Mesir ketika itu. Seperti halnya Rasulullah SAW yang dalam mendakwahkan Islam banyak mengirim surat kepada raja-raja di Jazirah Arab untuk menerima Islam secara utuh dan membuang tradisi-tradisi yang tidak baik, Hasan Albana pun tanpa ragu dan tetap dengan santun namun tegas mengirimkan berbagai surat seruan kepada Raja Faruk dan para menterinya untuk sadar dan mau membuang undang-undang Barat yang sekuler dan menggantinya dengan Undang-Undang Islam, yakni kitab suci Al-Qur’an dan Al-Hadts.

Bukan itu saja, Albana juga menyerukan agar para pemimpin dan pejabat Mesir bisa mencontohkan hidup yang baik kepada rakyatnya seperti tidak hidup bermewah-mewahan (apalagi atas fasilitas negara yang sebenarnya merupakan uang rakyat) di tengah lautan kemiskinan dan kesulitan hidup rakyatnya, mengharamkan pergaulan bebas, mengharamkan berjudi dalam segala bentuknya, menghentikan segala acara yang dianggap mubazir dan foya-foya seperti yang ditampilkan di berbagai klub malam dan panggung hiburan, dan menegakkan sholat (jadi bukan hanya mengerjakan sholat).

Selain itu, dalam suratnya, Albana juga menyerukan agar para pejabat negara mulai membiasakan berbahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an menggantikan bahasa Ingris dan Perancis yang saat itu biasa dilakukan para pejabat dalam acara-acara kenegaraan, menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah Islam dan tidak memasukkan anak-anak Mesir ke sekolah-sekolah Barat yang secara akidah akan bisa sangat merusak.

Saat itu, surat seruan ini sangat menggemparkan Mesir. Banyak pejabat Mesir yang tidak suka karena mereka telah terbiasa hidup mewah dari fasilitas negara, namun rakyat kebanyakan sangat mendukung karena menganggap tugas asasi para pejabat negara dan alat-alat negara lainnya adalah melayani umat, bukan umat yang harus jadi pelayan atau bahkan sapi perah bagi para pejabat tersebut. Politik sesungguhnya adalah cara untuk mengIslamkan negara, bukan sebaliknya, Islam dijadikan sekadar alat politik untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi yang sangat murah dan absurd.

Bacalah dengan menyebut nama Allah